Hari Jum’at kemarin (2/2/07) saya ke Jakarta naik kereta api Parahyangan, keberangkatan jam 15.00. Perjalanan saya mulai mengalami tanda-tanda keterlambatan ketika memasuki stasiun Lemahabang (antara karawang-bekasi). Distasiun ini kereta berhenti sekitar 13 menit. Waktu berhenti yang tidak lazim bagi kereta express Parahyangan. Setelah berjalan kembali, kereta kemudian berhenti di depan sinyal sebelum memasuki stasiun Cikarang. Di petak jalan ini kereta berhenti sekitar 25 menit. Saya yang berada di gerbong paling depan merasa heran karena sinyal lama sekali berubah dari merah menjadi hijau padahal kereta sudah lama berhenti. Keheranan saya juga bertambah karena di rel sebelah tak kunjung ada kereta yang lewat dari arah berlawanan, padahal saat itu pukul 18.05 merupakan jam sibuk dimana biasanya banyak kereta lewat. Setelah kereta memasuki stasiun Cikarang saya mencoba mencari tahu apa yang terjadi dan saya mendapat informasi bahwa tanah di sisi lintas rel sebelah selatan (jalur 1 dari arah sta Jatinegara) antara bekasi dan cakung tergerus sehingga hanya satu jalur yang dapat dilalui. Setelah berhenti sekitar 30 menit, kereta kembali berangkat.
Di setiap petak jalan dan stasiun antara cikarang-Bekasi kereta selalu berhenti sekitar 5 sampai 15 menit. Sekitar jam 20.45 kereta memasuki stasiun Bekasi. Ketika kereta yang saya tumpangi tiba di stasiun Bekasi, di jalur sebelah ada kereta argo gede dari bandung (keberangkatan jam 14.20) ke jakarta yang perlahan-lahan bergerak kembali setelah menunggu sekitar satu jam di stasiun itu. Tidak lama setelah itu, datang kereta Cirebon Express (keberangkatan jam 15.00 dari Cirebon yg seharusnya berangkat jam 12.45) dan kereta Taksaka (keberangkatan jam 9 pagi dari YOgya). Di stasiun ini, banyak penumpang dari kereta parahyangan dan cirebon express yang turun dan menunggu sinyal untuk kereta mana yang lebih dulu hijau. Ketika sinyal untuk kereta Parahyangan berubah menjadi hijau, banyak penumpang cirebon express yang pindah ke kereta parahyangan untuk mempercepat waktu tiba mereka. Setelah menunggu sekitar satu jam, kereta PArahyangan berangkat kembali. DI jalur antara kranji-cakung (sisi jalan terusan I gusti ngurah rai), saya melihat rel di sebelah rel yang saya lewati tanahnya tergerus banjir dan tiang listrik aliran atas untuk KRL ada yang tumbang sehingga sangat berpotensi membahayakan jika dilewati. Oleh karena itu, hanya satu rel, yakni rel sebelah utara (jalur yang dalam keadaan normal hanya dilewati kereta menuju jakarta), yang dapat dilewati. Selepas stasiun cakung, keadaan rel normal. Sepanjang petak jalan dan stasiun antara stasiun Cakung-klender penuh terisi oleh kereta dari arah Jatinegara yang menunggu diizinkan melewati rel antara cakung-Bekasi.
Kereta express Parahyangan yang saya tumpangi tiba di stasiun jatinegara jam 22.20 di jalur dua. Di stasiun jatinegara hampir setiap jalur terisi oleh kereta yang menunggu untuk diberangkatkan. Jalur satu ada kereta senja utama. Jalur tiga kereta Sawunggalih. jalur empat kosong. Jalur lima KRL tujuan Bekasi. Jalur enam kereta barang. Kalau dipikir-pikir, perjalanan Bandung-jakarta selama 7 1/2 jam yang saya lalui, sama saja dengan naik kereta harina Bandung-semarang atau argo lawu jkt-solo. Untung saja my iPod selalu menemani saya…