Di Headline Koran Pikiran Rakyat hari Kamis tanggal 24 Agustus 2006 ada straight news yang menyatakan bahwa daya saing penduduk asli Bandung kalah dengan warga pendatang. Menurut berita tersebut, rendahnya daya saing warga Bandung dapat dilihat dari tingkat ekonomi dan juga pendidikan yang masih ketinggalan dari warga migran. Sebelum ada berita tersebut, aku sudah sering mendengar hal ini dari media massa lainnya. Menurut beberapa kalangan, rendahnya daya saing warga Bandung, yang notabene didominasi oleh suku sunda salah satunya diprediksikan diakibatkan oleh falsafah masyarakat Sunda Sendiri yang merasa berkecukupan hidup di tempat yang subur.. Alam tatar Pasundan yang gemah ripah memang memberi kecukupan hidup bagi masyarakat Suku Sunda.
Aku Sendiri kurang sependapat dengan pernyataan tersebut. Menurut ku Orang Sunda, walaupun hidup di tanah yang subur, ialah orang yang suka kerja keras. Beberapa kerabat ku yang tinggal di persawahan tiap pagi setelah shalat Subuh sudah berangkat menuju ladang untuk bertani. Orang tua aku yang skrg kerja di Jakarta juga kurang sependapat dengan pendapat di atas. Kedua Orang tua ku berangkat kerja tiap pagi dan baru kembali ke rumah menjelang malam; malahan terkadang sampai larut malam jika ada meeting atau seminar. Menurut Papa ku, Kakek aku dulu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu bekerja keras. Orang tua aku asli dari Bandung dan pada tahun 1980-an pindah ke Jakarta karena alasan pekerjaan. Di Jakarta pun Papa dan Mama aku selalu berbicara dengan bahasa sunda, baik di Rumah maupun di tempat kerja (tentunya jika berbicara dengan orang sunda). Papa dan Mama aku bangga memperlihatkan kecintaan mereka pada budaya Sunda.
Sekarang kerabat ku masih banyak yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Di Bandung sekarang pun aku tinggal di rumah keluarga Bibi aku. Dari pertama kali aku tinggal bersama beliau selalu mengajarkan aku budaya sunda. Beliau mengajarkan aku berbahasa sunda yang halus dan tata krama sesuai dengan adat tatar Pasundan. Beberapa temanku banyak yang menanyakan kepadaku apakah aku ini orang sunda atau bukan. Mereka heran karena aku dapat berbahasa sunda halus, padahal SMA asal ku di Jakarta (Aku ikut Orang tua di Jakarta sejak SD sampai SMA). Aku tegaskan bahwa aku asli orang Sunda dan setiap tetes darah yang mengalir di tubuhku menyiratkan bahwa aku asli berasal dari Tatar Pasundan.
Di Buku Pengantar Ilmu Komunikasi karangan Prof. Dedy Mulyana, Ph.d disebutkan bahwa ada stereotipe yang menganggap bahwa orang Bandung lembut dan kaum perempuannya pandai bersolek. Aku sependapat dengan pernyataan Prof. Dedy tersebut dan aku sendiri membenarkan stereotipe tersebut. Oleh karena itu, aku bersyukur dilahirkan dengan darah Sunda yang mengalir di sekujur tubuhku.
Ini pertama kali aku menulis Blog di FS. Judul yang aku kemukakan di atas aku tulis dengan sepenuh hati dan aku sangat Bangga menulisnya.