Archive for August, 2006

Honda NSR Kuring Cageur Euy…

Wednesday, August 30th, 2006

Kamari-kamari NSR kuring pan rada teu damang. Radiator Bocor, Laher Komsteer Reksak, Wire Hareness sareng RC-Valve Pareum. Alhamdullilah, Ayeuna mah parantos jag-jag deui. Kamari ku abdi dilebetkeun ka bengkel. Perkawis wire HAreness, Saur Mekanik teh, Iyeu mah aya kabel nu pegat kuamrgi teu ngangge sekering. Di lereskeun weh kabel2 na sareng dipasangan sekering ambeh teu aya korsluiting deui. Sykur ka Pangeran, Akhirna Kelistrikana hirup deui. Rc-Valve na oge Alhamdullilah Jag-jag deui. Kabayang kuring mun kedah ngagaleuh Chip sareng motor-servo Rc-Valve enggal. Pangaos Chip na oge nu kode spare part na 32100-KW6-860 nyaeta 1,8 juta, teu acan motor-servo na 1,5 juta; jaba kedah Indent deui, da eta onderdil deh dijieun ku Honda Thailand, sanes ku AHM.  Laher Komsteer oge parantos digentos ku kuring ngannggo laher konsteer GL-Pro Neotech, da sami ukuranana mah. Radiator oge ALhamdullilah tiasa di Lereskeun. Waragad na mirah deui man 30 rebu rupiah. Kawit na ku kuring bade digaleuh nu enggal. Mun parantos ditaros ka Honda pusat, eta onderdil nu kode na 19110-KW6-920 kedah Indent ka Honda Thailand, jaba pangaosna oge awis deui, 500 rebu. Janten horoream Kuring, Ma enya kedah ngantosan dugi ka 2 bulan bari teu tiasa dianggo tebih eta motor. Makaning ngukut NSR mah lieur.. Onderdil na kedah mesen ka Thailand, da iyeu motor di jieun ku Urang Thailand atuh..   

AKU BANGGA MENJADI ORANG SUNDA

Wednesday, August 30th, 2006

Di Headline Koran Pikiran Rakyat hari Kamis tanggal 24 Agustus 2006 ada straight news yang menyatakan bahwa daya saing penduduk asli Bandung kalah dengan warga pendatang. Menurut berita tersebut, rendahnya daya saing warga Bandung dapat dilihat dari tingkat ekonomi dan juga pendidikan yang masih ketinggalan dari warga migran. Sebelum ada berita tersebut, aku sudah sering mendengar hal ini dari media massa lainnya. Menurut beberapa kalangan, rendahnya daya saing warga Bandung, yang notabene didominasi oleh suku sunda salah satunya diprediksikan diakibatkan oleh falsafah masyarakat Sunda Sendiri yang merasa berkecukupan hidup di tempat yang subur.. Alam tatar Pasundan yang gemah ripah memang memberi kecukupan hidup bagi masyarakat Suku Sunda.

Aku Sendiri kurang sependapat dengan pernyataan tersebut. Menurut ku Orang Sunda, walaupun hidup di tanah yang subur, ialah orang yang suka kerja keras. Beberapa kerabat ku yang tinggal di persawahan tiap pagi setelah shalat Subuh sudah berangkat menuju ladang untuk bertani. Orang tua aku yang skrg kerja di Jakarta juga kurang sependapat dengan pendapat di atas. Kedua Orang tua ku berangkat kerja tiap pagi dan baru kembali ke rumah menjelang malam; malahan terkadang sampai larut malam jika ada meeting atau seminar.  Menurut Papa ku, Kakek aku dulu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu bekerja keras. Orang tua aku asli dari Bandung dan pada tahun 1980-an pindah ke Jakarta karena alasan pekerjaan. Di Jakarta pun Papa dan Mama aku selalu berbicara dengan bahasa sunda, baik di Rumah maupun di tempat kerja (tentunya jika berbicara dengan orang sunda). Papa dan Mama aku bangga memperlihatkan kecintaan mereka pada budaya Sunda.

Sekarang kerabat ku masih banyak yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Di Bandung sekarang pun aku tinggal di rumah keluarga Bibi aku. Dari pertama kali aku tinggal bersama beliau selalu mengajarkan aku budaya sunda. Beliau mengajarkan aku berbahasa sunda yang halus dan tata krama sesuai dengan adat tatar Pasundan. Beberapa temanku banyak yang menanyakan kepadaku apakah aku ini orang sunda atau bukan. Mereka heran karena aku dapat berbahasa sunda halus, padahal SMA asal ku di Jakarta (Aku ikut Orang tua di Jakarta sejak SD sampai SMA). Aku tegaskan bahwa aku asli orang Sunda dan setiap tetes darah yang mengalir di tubuhku menyiratkan bahwa aku asli berasal dari Tatar Pasundan.

Di Buku Pengantar Ilmu Komunikasi karangan Prof. Dedy Mulyana, Ph.d disebutkan bahwa ada stereotipe yang menganggap bahwa orang Bandung lembut dan kaum perempuannya pandai bersolek. Aku sependapat dengan pernyataan Prof. Dedy tersebut dan aku sendiri membenarkan stereotipe tersebut. Oleh karena itu, aku bersyukur dilahirkan dengan darah Sunda yang mengalir di sekujur tubuhku.

Ini pertama kali aku menulis Blog di FS. Judul yang aku kemukakan di atas aku tulis dengan sepenuh hati dan aku sangat Bangga menulisnya.